Sam Altman, CEO OpenAI di balik kesuksesan ChatGPT, bukan hanya seorang tokoh terkemuka di dunia kecerdasan buatan. Kekayaannya yang mencapai US$ 1,5 miliar (sekitar Rp24 triliun) menunjukkan portofolio investasinya yang luas mencakup lebih dari 400 perusahaan teknologi.
Dari AI hingga energi terbarukan, Altman memiliki jejak signifikan di berbagai sektor. Mari kita telusuri beberapa perusahaan teknologi yang dikaitkan dengannya, mengungkap visi dan pengaruhnya terhadap perkembangan teknologi masa depan.
OpenAI: Mesin Pencari Uang dari Kecerdasan Buatan
OpenAI, didirikan pada 2015 bersama Elon Musk, awalnya merupakan organisasi nirlaba.
Misi awalnya adalah mendemokrasi akses ke Artificial General Intelligence (AGI).
Namun, pada 2019, OpenAI LP, divisi berorientasi profit, dibentuk.
Peluncuran ChatGPT pada November 2022 menandai tonggak penting.
ChatGPT menarik lebih dari 100 juta pengguna mingguan.
Saat ini, OpenAI bernilai sekitar US$ 300 miliar (sekitar Rp4.956 triliun), menjadikannya salah satu perusahaan AI paling berharga di dunia.
Loopt: Awal Perjalanan Wirausaha Altman
Sebelum OpenAI, Altman mendirikan Loopt pada 2005 saat masih kuliah di Stanford.
Aplikasi jejaring sosial berbasis lokasi ini memungkinkan pengguna berbagi lokasi secara *real-time*.
Altman bahkan keluar dari Stanford untuk fokus pada Loopt.
Loopt berhasil mengumpulkan lebih dari US$ 30 juta (sekitar Rp495 miliar) dari investor ternama.
Meskipun inovatif, Loopt tak meraih popularitas masif.
Pada 2012, Loopt diakuisisi oleh Green Dot Corporation seharga US$ 43,4 juta (sekitar Rp716 miliar).
Worldcoin (World): Identitas Digital dan Kontroversi Biometrik
Diluncurkan pada 2019, Worldcoin (kini bernama World) merupakan proyek identitas digital dan *cryptocurrency*.
Proyek ini menggunakan pemindaian iris mata untuk verifikasi identitas.
Tujuannya adalah menciptakan cara untuk membuktikan identitas manusia secara *online* tanpa mengungkap data pribadi.
Perangkat Orb memindai iris mata untuk menciptakan World ID.
Lebih dari 6,9 juta orang telah mendaftar hingga Oktober 2024.
Namun, proyek ini menuai kritik karena masalah privasi dan regulasi di berbagai negara.
Helion Energy dan Oklo: Investasi Besar di Energi Nuklir
Helion Energy, perusahaan energi fusi yang didanai Altman, berfokus pada pengembangan reaktor nuklir komersial.
Altman melakukan investasi pribadi terbesarnya di Helion, yaitu US$ 375 juta (sekitar Rp6,1 triliun) pada 2021.
Helion menggunakan teknologi “field-reversed configuration” (FRC).
Pada Januari 2025, Helion mengumumkan putaran pendanaan tambahan dengan valuasi mencapai US$ 5,4 miliar (sekitar Rp89,2 triliun).
Oklo, *startup* nuklir yang mengembangkan mikroreaktor fisi, juga mendapat dukungan Altman.
Altman pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Oklo.
Oklo menjadi perusahaan publik pada Mei 2024 melalui merger dengan AltC Acquisition Corp.
Retro Biosciences dan Hermeus: Memacu Batas Kehidupan dan Perjalanan
Retro Biosciences, perusahaan biotek yang didanai Altman, bertujuan memperpanjang harapan hidup manusia.
Altman memimpin investasi sebesar US$ 180 juta (sekitar Rp2,9 triliun) pada 2022.
Perusahaan ini fokus pada terapi *reprogramming* seluler dan *autophagy*.
Hermeus, *startup* yang mengembangkan pesawat supersonik, juga mendapat pendanaan dari Altman.
Altman menjadi investor utama dalam putaran pendanaan seri B senilai US$ 100 juta (sekitar Rp1,6 triliun) pada 2022.
Hermeus bertujuan menciptakan pesawat penumpang supersonik yang mampu terbang dari New York ke London dalam 90 menit.
Portofolio investasi Sam Altman yang luas menunjukkan minatnya yang besar dalam teknologi transformatif. Dari kecerdasan buatan hingga energi terbarukan, dan bahkan upaya untuk memperpanjang umur manusia, Altman sedang membentuk masa depan teknologi dengan cara yang signifikan.





