Mantan CEO Google, Eric Schmidt, tengah mengejar ambisi besar di perusahaan barunya, Relativity Space. Ia berencana membangun pusat data di orbit Bumi. Rencana ini muncul di tengah meningkatnya kebutuhan daya listrik yang fantastis untuk pusat data, terutama yang mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Schmidt, yang memimpin Google selama tahun 2000-an sebelum mengundurkan diri pada 2011, kini memegang kendali Relativity Space, sebuah perusahaan teknologi luar angkasa. Posisinya yang baru ini memberinya akses dan peluang untuk merealisasikan ide ambisiusnya.
Pusat Data Raksasa dan Krisis Energi
Pertumbuhan pusat data global sangat pesat, melampaui prediksi sebelumnya. Permintaan daya listrik pun meningkat secara eksponensial.
Schmidt menjelaskan dalam sebuah rapat dengan Kongres AS bahwa beberapa perusahaan saat ini membangun pusat data yang membutuhkan daya hingga 10 gigawatt. Sebagai perbandingan, sebuah pembangkit listrik nuklir menghasilkan daya sekitar 1 gigawatt.
Proyeksi kebutuhan daya listrik untuk pusat data semakin mengkhawatirkan. Schmidt memperkirakan kebutuhan akan mencapai 29 gigawatt dalam beberapa tahun mendatang, dan melonjak hingga 67 gigawatt atau lebih pada tahun 2030. Skala kebutuhan ini, menurutnya, belum pernah terjadi sebelumnya.
Solusi Orbit: Pusat Data di Luar Angkasa
Melihat keterbatasan sumber daya energi di Bumi, Schmidt melihat peluang untuk membangun pusat data di orbit. Ide ini merupakan solusi potensial untuk mengatasi krisis energi yang dihadapi industri pusat data.
Relativity Space, dengan fokusnya pada teknologi roket, berperan penting dalam rencana ini. Schmidt berencana menggunakan roket canggih Relativity untuk meluncurkan pusat data ke orbit Bumi.
Penggunaan energi matahari di luar angkasa menjadi alternatif yang dipertimbangkan. Energi matahari di luar angkasa jauh lebih melimpah dan konsisten dibandingkan di Bumi.
Tantangan dan Kemungkinan Terran R
Meskipun ide pusat data di orbit tampak menjanjikan, tantangannya masih besar. Biaya yang sangat tinggi menjadi kendala utama. Teknologi roket yang ada saat ini pun belum sepenuhnya mampu mendukung proyek sebesar ini.
Relativity Space sedang mengembangkan roket Terran R, yang diharapkan mampu membawa beban hingga 33,5 ton ke orbit rendah Bumi dan kembali dengan selamat. Keberhasilan Terran R akan menjadi langkah signifikan menuju realisasi rencana ambisius Schmidt.
Terran R, yang diproduksi dengan teknologi pencetakan 3D, diharapkan mampu mengatasi beberapa kendala logistik dan biaya yang selama ini menghalangi pengiriman muatan besar ke luar angkasa. Keberhasilan ini akan menandai babak baru eksplorasi ruang angkasa dan solusi inovatif dalam menghadapi kebutuhan energi dunia yang terus meningkat.
Meskipun masih menghadapi berbagai tantangan, rencana Eric Schmidt untuk membangun pusat data di orbit Bumi menunjukkan inovasi dalam menjawab kebutuhan teknologi yang terus berkembang pesat. Keberhasilannya akan merevolusi cara kita mengelola dan mengakses data di masa depan.





