Kecelakaan pesawat Air India 171 yang terjadi pada 12 Juni 2025 telah menewaskan 260 orang, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban dan seluruh masyarakat India. Tragedi ini melibatkan pesawat Boeing 787 Dreamliner yang jatuh setelah kedua mesinnya mengalami kerusakan tak lama setelah lepas landas. Satu-satunya penumpang yang selamat adalah Vishwash Ramesh, yang duduk di kursi 11A.
Kejadian ini memicu penyelidikan menyeluruh oleh Biro Investigasi Kecelakaan Pesawat Udara (AAIB) India. Berbagai kemungkinan penyebab sedang ditelusuri, termasuk kemungkinan sabotase, yang diutarakan secara resmi oleh Menteri Negara Penerbangan Sipil India, Murlidhar Mohol.
Dugaan Sabotase dan Kesaksian Pilot
Pernyataan resmi mengenai kemungkinan sabotase merupakan perkembangan signifikan dalam investigasi. Sebelumnya, spekulasi tentang sabotase telah beredar di kalangan publik. Namun, ini adalah pertama kalinya pejabat pemerintah secara terbuka mengakui kemungkinan tersebut sebagai penyebab kecelakaan.
Rekaman komunikasi antara pilot Air India 171, Kapten Sumeet Sabharwal, dan kontrol lalu lintas udara menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Kapten Sabharwal melaporkan hilangnya daya dorong mesin dan mengirimkan sinyal darurat “May Day”.
Kehilangan daya dorong pada kedua mesin secara simultan merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi, digambarkan oleh para ahli sebagai peristiwa yang sangat kecil kemungkinannya. AAIB tengah menyelidiki kemungkinan kontaminasi bahan bakar yang disengaja sebagai penyebab utama.
Analisa Kotak Hitam dan Penyelidikan Mendalam
Kotak hitam pesawat, yang berisi perekam suara kokpit (CVR) dan perekam data penerbangan digital (DFDR), telah ditemukan dan sedang dianalisis di India. CVR akan memberikan informasi penting tentang percakapan antara pilot sebelum dan selama kecelakaan.
DFDR merekam data penerbangan seperti ketinggian dan kecepatan pesawat. Data ini sangat krusial dalam merekonstruksi kejadian dan menentukan penyebab pasti kecelakaan.
Menteri Mohol menegaskan bahwa kotak hitam tidak akan dikirim ke luar negeri untuk dianalisis. Penyelidikan akan dilakukan sepenuhnya oleh AAIB di India. Hasil penyelidikan diharapkan selesai dalam tiga bulan ke depan.
Satu-satunya Korban Selamat dan Keamanan Penerbangan
Vishwash Ramesh, satu-satunya korban selamat, menceritakan pengalaman mengerikannya. Ia berhasil merangkak keluar dari pesawat yang hancur. Sayangnya, saudaranya, Ajay, meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Ramesh, dalam wawancara dengan berbagai media, mengungkapkan trauma yang dialaminya. Ia juga menjelaskan bahwa pesawat jatuh hanya 33 detik setelah lepas landas dan mencapai ketinggian hanya 190 meter.
Menteri Mohol memberikan jaminan keamanan penerbangan di India. Semua 33 pesawat Boeing 787 Dreamliner di India telah diperiksa dan dinyatakan aman. Ia juga menekankan bahwa kejadian ini merupakan kecelakaan yang sangat langka.
Pesawat menghantam asrama sebuah perguruan tinggi kedokteran, menimbulkan korban jiwa tambahan di darat. Kondisi Ramesh saat ini dilaporkan stabil dan diperkirakan dapat pulang dari rumah sakit dalam beberapa hari ke depan.
Insiden ini menjadi tragedi besar bagi India dan dunia penerbangan. Investigasi yang sedang berjalan diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti kecelakaan dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Semoga keluarga korban dapat menerima kekuatan dan penghiburan di tengah duka yang mendalam.





