Liburan sekolah tiba! Bukan hanya waktu untuk bersantai, masa ini juga merupakan kesempatan emas bagi anak-anak untuk mengembangkan diri. Orangtua memegang peran penting dalam memastikan liburan anak-anak diisi dengan aktivitas bermakna, jauh dari ketergantungan pada gadget. Dengan perencanaan yang tepat, liburan sekolah dapat menjadi momen berharga bagi tumbuh kembang anak.
Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., menyarankan agar orangtua aktif terlibat dalam merencanakan kegiatan anak selama liburan. Hal ini penting untuk membangun ikatan keluarga yang lebih kuat dan memastikan anak-anak menghabiskan waktu liburan dengan bermanfaat.
Aktivitas Bermakna di Luar Layar
Liburan sekolah seharusnya menjadi waktu berkualitas bagi keluarga. Orangtua dapat menawarkan beragam aktivitas sederhana namun berkesan. Misalnya, memasak bersama, menonton film keluarga, berolahraga di luar ruangan, memancing, mendaki gunung, atau sekadar piknik.
Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya mempererat hubungan emosional keluarga. Anak-anak juga dapat belajar keterampilan sosial dan mengembangkan kepercayaan diri melalui pengalaman-pengalaman nyata tersebut. Komunikasi terbuka antara orangtua dan anak sangat krusial dalam menentukan aktivitas liburan.
Novi menekankan pentingnya dialog antara orangtua dan anak. Liburan menjadi momen ideal untuk memperkuat ikatan keluarga melalui aktivitas bersama. Dengan demikian, liburan menjadi waktu yang menyenangkan dan bermakna bagi semua anggota keluarga.
Membatasi Penggunaan Gawai
Penggunaan gawai secara berlebihan perlu dibatasi, terutama selama liburan sekolah. Novi menyarankan batasan maksimal tiga jam penggunaan gawai per hari. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan luring.
Penggunaan gadget yang berlebihan berisiko menyebabkan “Brain Rot”. Kondisi ini ditandai dengan penurunan fungsi otak secara bertahap akibat paparan layar yang terus-menerus. Selain itu, anak juga rentan mengalami masalah kesehatan fisik, seperti gangguan mata, masalah tulang belakang, obesitas, dan risiko penyakit jantung.
Secara kognitif, penggunaan gawai berlebihan dapat menurunkan fokus, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Anak juga bisa menjadi malas berpikir dan kurang aktif secara fisik. Interaksi sosial anak pun dapat terganggu, menyebabkan mereka menjadi lebih mudah cemas dan tersinggung.
Kegiatan Seru dan Edukatif untuk Keluarga
Liburan sekolah juga kesempatan untuk memperluas wawasan anak. Orangtua bisa mendaftarkan anak dalam kelas-kelas yang sesuai dengan minat dan hobi mereka. Misalnya, kelas memanah, musik, atau olahraga.
Kegiatan sosial juga sangat bermanfaat bagi perkembangan anak. Anak-anak dapat belajar berinteraksi dengan orang lain dari berbagai latar belakang, memperluas empati dan wawasan mereka. Menghadiri festival edukasi seperti LittleDoodle 2025 di Urban Forest, Jakarta Selatan, juga merupakan pilihan yang menarik.
LittleDoodle 2025: Festival Seni Edukatif
LittleDoodle 2025, yang berlangsung dari 26 hingga 29 Juni 2025, merupakan festival edukasi seni untuk keluarga. Acara ini menawarkan berbagai aktivitas menarik, seperti *creators’ market*, *workshop*, dan *meet and greet* dengan karakter-karakter favorit anak.
Festival ini bertujuan untuk memperkenalkan seni kepada anak-anak sejak dini dengan cara yang menyenangkan dan edukatif. Partisipasi seniman dan *brand* ternama juga menambah daya tarik acara ini. LittleDoodle 2025 dirancang untuk mempererat hubungan keluarga dan memberikan alternatif kegiatan yang positif bagi anak-anak.
Acara ini juga bekerja sama dengan Save The Children untuk memberikan ruang bagi anak-anak berekspresi dan mengeksplorasi diri. Berbagai *workshop* yang ditawarkan juga dirancang untuk berbagai rentang usia.
Kesimpulannya, libur sekolah bukan hanya waktu untuk bersantai, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama keluarga. Dengan perencanaan yang baik dan keterlibatan aktif orangtua, liburan sekolah dapat menjadi pengalaman yang berharga dan bermakna bagi anak-anak, sekaligus memperkuat ikatan keluarga. Mengurangi waktu layar dan mengganti dengan aktivitas yang merangsang kreativitas dan interaksi sosial akan memberikan dampak positif bagi perkembangan anak secara menyeluruh.





