Misteri Gunung Abadi Phou Louey Laos: 6 Fakta Mengejutkan

Misteri Gunung Abadi Phou Louey Laos: 6 Fakta Mengejutkan
Sumber: Liputan6.com

Gunung Phou Louey, menjulang setinggi 2.257 meter di atas permukaan laut, merupakan puncak yang memikat di Laos. Terletak di Provinsi Houaphan, Luang Prabang, gunung ini menjadi bagian penting dari Taman Nasional Nam Et-Phou Louey, sebuah kawasan lindung seluas 5.070 km² yang kaya akan keanekaragaman hayati. Keindahan alam dan keunikannya menarik perhatian para petualang dan peneliti. Artikel ini akan mengulas enam fakta menarik seputar Gunung Phou Louey yang mungkin belum Anda ketahui.

Asal-usul Nama “Gunung Abadi”

Nama “Phou Louey” sendiri menyimpan makna yang dalam. “Phou” berarti gunung, sementara “Louey” diartikan sebagai abadi. Nama ini mencerminkan keagungan dan daya tahan gunung tersebut, yang telah berdiri megah selama berabad-abad. Taman Nasional Nam Et-Phou Louey, yang menaungi gunung ini, juga mengambil nama dari Sungai Nam Et (“Nam” berarti air) dan Gunung Phou Louey.

Taman Nasional Nam Et-Phou Louey: Hutan Lindung yang Luas

Taman Nasional Nam Et-Phou Louey ditetapkan pada tahun 2019, sebelumnya dikenal sebagai kawasan lindung nasional. Kawasan inti seluas 3.000 km² melindungi habitat satwa liar dan melarang akses manusia serta kegiatan perburuan.

Kawasan penyangga seluas 2.950 km² mendukung kehidupan masyarakat desa sekitar yang telah bermukim di sana. Wilayah taman didominasi oleh pegunungan dan perbukitan, menciptakan lanskap yang dramatis. Viengthong, sebuah kota kecil di Provinsi Houaphan, menjadi pintu gerbang utama menuju taman nasional dan memiliki fasilitas dasar bagi para pengunjung.

Pendakian Menuju Puncak dan Kehidupan Masyarakat Sekitar

Gunung Phou Louey menawarkan tantangan bagi para pendaki dengan medan pegunungan yang terjal. Titik tertinggi adalah puncak Gunung Phou Louey sendiri, sementara titik terendah berada di Sungai Nam Et. Jalur pendakian yang menantang dan pemandangan alam yang menakjubkan menjadi daya tarik utama.

Masyarakat sekitar Taman Nasional Nam Et-Phou Louey terdiri dari lebih dari 100 desa yang hidup secara berdampingan dengan alam. Delapan dari 50 kelompok etnis di Laos tinggal di daerah ini, dengan Khmu, Hmong, dan Lao sebagai kelompok mayoritas. Kehidupan mereka bergantung pada kekayaan alam yang ditawarkan oleh kawasan lindung tersebut.

Sumber Air Utama dan Keanekaragaman Hayati yang Tinggi

Lebih dari 12% wilayah taman memiliki lereng yang curam. Gunung Phou Louey dan Taman Nasionalnya berperan sebagai sumber air bagi beberapa sungai penting di Laos, termasuk Nam Et, Nam Nern, dan Nam Khan. Sungai-sungai ini sangat penting bagi ekosistem dan kehidupan masyarakat di sekitarnya, termasuk sebagai anak sungai Mekong. Aliran air melimpah terlihat di beberapa jalur pendakian, menyediakan sumber air bagi para pendaki.

Taman Nasional ini menjadi habitat bagi lebih dari 50 spesies mamalia, berbagai spesies karnivora termasuk beberapa jenis kucing besar, anjing liar Dhole yang terancam punah, dan dua spesies beruang. Populasi siamang pipi putih utara yang terancam punah juga ditemukan di sini. Lebih dari 300 spesies burung telah teridentifikasi, dengan kemungkinan masih banyak spesies yang belum tercatat.

Ekowisata: Menjaga Kelestarian Alam dan Perekonomian Lokal

Sejak tahun 2010, Taman Nasional Nam Et-Phou Louey telah mengembangkan program ekowisata untuk mengimbangi upaya konservasi dengan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Para pengunjung dapat menjelajahi keindahan taman melalui tur yang dipandu oleh pemandu lokal yang berpengalaman. Ada dua pilihan utama tur yang ditawarkan, yaitu Pengalaman Sungai dan Pengalaman Gunung, yang menawarkan kesempatan untuk menyaksikan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.

Gunung Phou Louey bukan hanya sekadar puncak gunung, tetapi juga simbol kelestarian alam dan ketahanan budaya masyarakat Laos. Keberadaan Taman Nasional Nam Et-Phou Louey menunjukkan upaya pelestarian lingkungan yang terintegrasi dengan pengembangan ekonomi lokal melalui ekowisata, menjadi contoh yang baik bagi upaya konservasi di kawasan Asia Tenggara. Harapannya, kawasan ini akan terus terjaga keasriannya dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *