Worldcoin: Revolusi Mata Uang Digital, Amankah Data Pribadi Anda?

Worldcoin: Revolusi Mata Uang Digital, Amankah Data Pribadi Anda?
Sumber: Liputan6.com

Minat publik terhadap teknologi kripto dan dampaknya terhadap privasi semakin meningkat. Salah satu platform yang baru-baru ini menjadi sorotan adalah Worldcoin, layanan kripto yang dikembangkan oleh Sam Altman. Kontroversi seputar pengumpulan data biometrik dan pembekuan izin operasionalnya di Indonesia telah memicu berbagai pertanyaan dan diskusi.

Berita lain yang menarik perhatian adalah unggahan Presiden AS Donald Trump di media sosial yang menampilkan dirinya sebagai Paus menggunakan teknologi AI. Unggahan ini memicu beragam reaksi dan kritik, terutama dari kalangan agama Katolik.

Mengenal Worldcoin: Cara Kerja dan Kontroversinya

Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia (Kominfo) telah membekukan izin operasional WorldID dan Worldcoin. Alasannya adalah viralnya kegiatan pengumpulan data biometrik warga Indonesia dengan iming-iming token Worldcoin.

Worldcoin merupakan proyek ambisius yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI), mata uang kripto, dan teknologi blockchain. Tujuannya adalah menciptakan akses yang lebih luas ke ekonomi global bagi semua orang.

Sistem Worldcoin mengklaim terdesentralisasi, memberi pengguna kendali atas data dan transaksi mereka. Namun, metode pengumpulan data biometrik melalui perangkat Orb yang memindai iris mata telah menimbulkan kekhawatiran.

Proses mendapatkan Worldcoin melibatkan pemindaian iris mata menggunakan perangkat Orb untuk verifikasi identitas. Setelah pemindaian, pengguna akan menerima token Worldcoin.

Proyek ini dikembangkan selama dua tahun oleh Sam Altman bersama Alex Blania dan Max Novendstern. Mereka bermaksud mengatasi kesenjangan ekonomi global melalui sistem World ID.

Analisis Pakar Kripto: Potensi dan Risiko Worldcoin

Meskipun Worldcoin menawarkan potensi akses yang lebih luas ke ekonomi global, risiko privasi dan keamanan data menjadi perhatian utama.

Co-Founder CryptoWatch, Christopher Tahir, menekankan bahwa metode pemindaian iris mata menimbulkan kekhawatiran. Meskipun inovatif, metode ini juga berpotensi menimbulkan masalah keamanan.

Christopher menyoroti kerentanan kebocoran data. Pertanyaan seputar keamanan penyimpanan data dan perlindungan anonimitas pengguna masih menjadi misteri dan perlu dikaji lebih lanjut.

Ia menambahkan bahwa penting bagi pengguna untuk memahami risiko sebelum menggunakan layanan ini. Transparansi dan keamanan data harus menjadi prioritas utama setiap platform kripto.

Donald Trump dan Kontroversi Foto AI: Reaksi dan Kritik

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah mengunggah foto hasil rekayasa AI yang menampilkan dirinya sebagai Paus. Foto tersebut diunggah di Truth Social dan dibagikan ulang di platform X.

Unggahan tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Kardinal Pablo Virgilio David dari Filipina dan Pastor Gerald Murray dari Keuskupan Agung New York. Mereka menilai unggahan tersebut tidak sensitif dan tidak pantas.

Kritik juga datang dari perwakilan para uskup Katolik di negara bagian New York. Mereka mengecam unggahan tersebut melalui platform X, menilai tindakan Trump tidak beretika.

Kasus ini menggarisbawahi pentingnya bijak dalam penggunaan teknologi AI, khususnya dalam konteks publik figur dan isu sensitif. Penggunaan teknologi AI untuk tujuan manipulasi atau penyebaran informasi yang menyesatkan perlu diwaspadai.

Ketiga berita ini mencerminkan perkembangan teknologi yang pesat dan kompleksitas implikasinya terhadap kehidupan masyarakat. Penting bagi publik untuk tetap kritis, bijak, dan selalu mempertimbangkan aspek etika dan keamanan data dalam menghadapi inovasi teknologi baru.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *