Meghan Markle: Perundungan Kejam, Kisah Pangeran Harry

Meghan Markle: Perundungan Kejam, Kisah Pangeran Harry
Sumber: Liputan6.com

Pangeran Harry baru-baru ini berbicara blak-blakan mengenai perundungan yang dialami istrinya, Meghan Markle, di media sosial. Pengakuan mengejutkan ini disampaikan saat ia tampil di Nexus Global Summit 2025 di New York. Pernyataan tersebut menyoroti keprihatinan pasangan tersebut terhadap dampak negatif dunia maya, khususnya pada kesehatan mental.

Pernyataan Pangeran Harry di KTT tersebut menekankan pentingnya peran dunia digital dalam kehidupan mereka, terutama mengingat pengalaman traumatis yang dialami Meghan. Ia juga membahas upaya-upaya yang dilakukan untuk memerangi isolasi sosial daring dan membangun masa depan yang lebih baik.

Perundungan Daring yang Dialami Meghan Markle

Pangeran Harry mengungkapkan bahwa pada tahun 2018, Meghan Markle merupakan individu yang paling banyak menerima perundungan di dunia. Hal ini menjadi pendorong utama bagi pasangan tersebut untuk fokus pada isu-isu digital melalui Archewell Foundation.

Mereka tergerak untuk bertindak setelah menyaksikan langsung dampak negatif media sosial, terutama kasus orang tua yang kehilangan anak-anak mereka akibat bunuh diri yang dipicu oleh perundungan daring. Pengalaman-pengalaman menyayat hati ini semakin memperkuat tekad mereka untuk memerangi perundungan di dunia maya.

Kurangnya Empati di Era Digital

Harry menghubungkan meningkatnya perundungan daring dengan kurangnya empati di masyarakat. Ia berpendapat bahwa kesulitan hidup yang dialami banyak orang berkontribusi pada penurunan rasa empati ini.

Meghan Markle sendiri mulai menghadapi sorotan media yang intens sejak pertunangannya dengan Harry pada November 2017. Sorotan negatif tersebut berdampak sangat besar pada kesehatan mentalnya, bahkan membuatnya pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Meghan, dalam wawancara dengan Oprah Winfrey, menceritakan keputusasaan yang dialaminya saat itu. Ia merasa tidak memahami bagaimana situasi tersebut bisa terjadi dan tidak melihat jalan keluar dari tekanan yang dialaminya.

Pasangan tersebut memilih untuk mengundurkan diri dari tugas kerajaan mereka di tahun 2020. Keputusan ini diambil di tengah konflik dengan beberapa anggota keluarga kerajaan. Mereka kemudian pindah ke Montecito, California, bersama kedua anak mereka, Pangeran Archie dan Putri Lilibet.

Meghan Markle: Ekspansi Bisnis dan Perubahan Citra

Selain pernyataan Pangeran Harry tentang perundungan, pemberitaan juga menyoroti langkah Meghan Markle dalam mengembangkan kerajaan bisnisnya. Ia telah mematenkan merek dagang “As Ever” untuk layanan perhotelan, meliputi hotel, restoran, dan penyediaan makanan dan minuman.

Langkah ini dianggap sebagai upaya Meghan untuk membangun citra sebagai pengusaha gaya hidup yang sukses. Para ahli merek menilai langkah ini selaras dengan citra bisnis yang telah ia bangun sebelumnya.

“As Ever” lebih dari sekadar merek; ia merupakan perwujudan kecintaan Meghan pada memasak, menerima tamu, dan menciptakan suasana yang hangat. Beberapa kreasi masakannya telah ditampilkan dalam serial TV-nya, “With Love, Meghan,” dan kemungkinan akan menjadi bagian dari menu restoran yang akan datang.

Meghan juga terlihat mengubah citra dirinya, beralih dari seorang bangsawan yang meninggalkan kehidupan kerajaan menuju seorang pebisnis dan pengusaha yang sukses dan berpengaruh. Dalam serial TV-nya, ia mengungkapkan kecintaannya pada dunia perhotelan, dengan menyatakan bahwa menyiapkan kamar tamu adalah salah satu hal favoritnya ketika menerima tamu.

Di media sosial, khususnya Instagram, Meghan semakin aktif setelah meluncurkan kembali akun pribadinya pada awal tahun. Ia kerap membagikan momen-momen pribadinya, termasuk video dirinya di rumah sakit saat hamil, yang memicu berbagai reaksi di Inggris dan Amerika.

Pangeran Harry dan Meghan Markle terus menyuarakan keprihatinan mereka terhadap dampak negatif dunia digital. Pengalaman pribadi mereka, dipadukan dengan langkah-langkah bisnis Meghan, menunjukkan upaya mereka untuk menciptakan dampak positif dan membangun masa depan yang lebih baik, baik untuk diri mereka sendiri maupun bagi masyarakat luas. Kisah mereka menyoroti pentingnya empati dan kesadaran akan dampak perundungan daring dalam masyarakat modern.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *