Misteri Crossing Landing Batik Air: Penjelasan Sainsnya?

Sebuah pesawat Batik Air dengan nomor registrasi PK-LDJ mengalami pendaratan miring di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Sabtu, 28 Juni 2025. Kejadian ini sempat viral di media sosial, menampilkan video pesawat yang tampak oleng saat menyentuh landasan. Pihak maskapai menyatakan kecepatan angin sebagai penyebab insiden tersebut.

Insiden ini mengingatkan kita pada kejadian serupa yang menimpa pesawat Delta Flight 4819 di Bandara Toronto Pearson pada Februari 2025. Kedua kejadian ini, menurut ahli fisika, dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip dasar ilmu fisika terkait keseimbangan gaya aerodinamis.

Penjelasan Ilmiah di Balik Pendaratan Miring

Arun Bansil, profesor fisika terkemuka di Northeastern University, menjelaskan bahwa kestabilan pesawat saat terbang, mendarat, dan lepas landas bergantung pada keseimbangan berbagai gaya yang bekerja padanya.

Ketidakseimbangan gaya aerodinamis di sekitar sumbu pesawat dapat menyebabkan pesawat berputar, seperti yang terjadi pada pesawat Delta 4819 yang sampai terbalik.

Intensitas angin, khususnya angin silang (crosswind), memainkan peran penting dalam ketidakstabilan tersebut.

Dampak Angin Silang terhadap Pendaratan Pesawat

Angin silang, yaitu angin yang berhembus tegak lurus terhadap arah penerbangan, dapat menyulitkan pilot dalam upaya pendaratan.

Hembusan angin silang yang tiba-tiba bisa membuat gaya angkat pada satu sayap jauh lebih besar daripada sayap lainnya, sehingga menyebabkan pesawat miring bahkan terbalik.

Kerusakan pada salah satu sayap juga akan berdampak serupa, menyebabkan ketidakseimbangan gaya aerodinamis.

Untuk mengurangi risiko, banyak pesawat turbin dilengkapi dengan sistem pembalik daya dorong (reverse thrust). Sistem ini membantu memperpendek jarak pendaratan dan mengurangi beban pada rem.

Memahami cara kerja, keterbatasan, dan potensi bahaya dari sistem ini sangat penting bagi pilot.

Penjelasan Batik Air dan Tindak Lanjut

Batik Air menjelaskan bahwa prosedur pendaratan telah dilakukan sesuai standar operasional.

Namun, peningkatan kecepatan angin silang pada saat pendekatan ke landasan pacu menyebabkan pesawat miring.

Meskipun kecepatan angin masih dalam batas aman untuk pendaratan, peningkatan mendadak tersebut membuat pesawat terlihat miring, bahkan satu mesin hampir menyentuh landasan.

Setelah pendaratan, pesawat langsung diperiksa secara menyeluruh oleh tim teknisi.

Hasil pemeriksaan menyatakan tidak ada kerusakan dan pesawat dinyatakan aman untuk beroperasi kembali.

Batik Air menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan penerbangan adalah prioritas utama mereka.

Mereka berkomitmen untuk terus mematuhi standar keselamatan penerbangan yang berlaku.

Kejadian ini, yang viral di media sosial, terjadi di tengah kondisi cuaca buruk dengan hujan dan angin kencang. Meskipun pihak Batik Air menekankan bahwa semua prosedur telah dijalankan dan pesawat dinyatakan aman, insiden ini tetap menyoroti pentingnya antisipasi dan penanganan kondisi cuaca ekstrem dalam penerbangan.

Ke depan, peningkatan sistem peringatan dini dan pelatihan yang lebih komprehensif bagi pilot dalam menghadapi situasi angin silang yang ekstrem dapat menjadi pertimbangan untuk meminimalisir kejadian serupa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *