Tragedi Gunung: Fiersa Besari Berduka, Tiga Pendaki Tewas

Tragedi Gunung: Fiersa Besari Berduka, Tiga Pendaki Tewas
Sumber: Liputan6.com

Indonesia baru saja dilanda duka cita mendalam atas meninggalnya beberapa pendaki gunung dalam waktu yang berdekatan. Kejadian ini menyita perhatian publik, termasuk musisi Fiersa Besari, yang turut menyampaikan belasungkawa.

Tragedi ini melibatkan tiga pendaki di tiga gunung yang berbeda: Gunung Rinjani, Gunung Muria, dan Gunung Halimun Salak. Masing-masing kasus memiliki detail yang menyayat hati.

Tragedi di Tiga Gunung

Seorang pendaki asal Brasil bernama Juliana ditemukan meninggal dunia setelah terjatuh di jurang Gunung Rinjani. Evakuasi jenazahnya berlangsung dramatis dan menyita banyak perhatian.

Di Gunung Muria, Jovita Diva Prabudawardani (21 tahun), seorang pendaki yang melakukan pendakian sekali jalan (tektok), mengalami kecelakaan fatal. Ia terpeleset dan jatuh ke jurang sedalam 180 meter, ditemukan meninggal dunia oleh tim SAR pada 25 Juni 2025.

Sementara itu, di Gunung Halimun Salak, Indra (65 tahun) ditemukan meninggal dunia di tebing curam pada 25 Juni 2025. Ia dilaporkan hilang sejak 22 Juni 2025.

Belasungkawa Fiersa Besari dan Apresiasi Tim SAR

Fiersa Besari, melalui akun media sosialnya, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya ketiga pendaki tersebut. Ia turut bersimpati atas kejadian yang menimpa para pendaki.

Selain menyampaikan duka, Fiersa juga memberikan apresiasi tinggi kepada tim SAR dan para relawan yang berjuang keras dalam proses evakuasi, khususnya di tengah kondisi cuaca ekstrem di puncak gunung.

Dedikasi dan pengorbanan tim SAR dinilai Fiersa sebagai sesuatu yang patut dihargai dan diingat selamanya. Ia menyebut jasa-jasa mereka sebagai sesuatu yang abadi.

Refleksi atas Kecelakaan Pendakian Sebelumnya

Kejadian ini mengingatkan kembali Fiersa pada tragedi pendakian Puncak Carstensz pada Februari 2025. Dalam pendakian tersebut, dua pendaki wanita, Lilie Wijayati Poegiono dan Elsa Laksono, meninggal dunia di ketinggian 4.884 mdpl.

Fiersa sendiri turut serta dalam ekspedisi tersebut dan sempat terputus kontak beberapa waktu setelah kejadian. Ia kemudian menyampaikan belasungkawa mendalam dan menjelaskan situasi yang mencekam di basecamp Yellow Valley.

Setelah kembali ke Timika, Fiersa menyampaikan bahwa kondisi dirinya dan Furky Syahroni stabil. Ia menjelaskan bahwa timnya terpisah dengan tim Lilie dan Elsa, yang menggunakan operator tur berbeda.

Fiersa juga menuturkan bahwa cuaca buruk di Yellow Valley menyebabkan keterlambatan evakuasi dan komunikasi. Hal ini juga menjadi bagian dari tantangan dalam kegiatan pendakian.

Pengalaman pahit ini menunjukkan betapa pentingnya kesiapan dan antisipasi dalam menghadapi tantangan ekstrem di alam bebas, khususnya untuk pendakian di gunung-gunung tinggi di Indonesia.

Serangkaian tragedi pendakian ini menyadarkan kita akan pentingnya keselamatan dan persiapan yang matang sebelum melakukan pendakian. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pendaki dan pihak terkait untuk senantiasa memprioritaskan keselamatan serta meningkatkan prosedur keamanan di gunung.

Dukungan dan solidaritas untuk keluarga para korban, serta apresiasi yang tinggi untuk tim SAR dan relawan yang bertugas, tetap diperlukan. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali.

Pos terkait