Tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada Kamis dini hari (3/7/2025) menyisakan duka mendalam. Kejadian yang menewaskan sejumlah penumpang dan awak kapal ini menjadi sorotan publik dan memicu seruan perbaikan tata kelola transportasi laut di Indonesia.
Ketua DPR RI, Puan Maharani, turut menyampaikan belasungkawa dan mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pelayaran. Perbaikan ini dinilai krusial untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.
Kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali
KMP Tunu Pratama Jaya berangkat dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kapal tersebut membawa 65 orang, terdiri dari 53 penumpang dan 12 awak kapal, serta berbagai kendaraan.
Sekitar 25 menit setelah berlayar, tepatnya pukul 22.56 WIB, kapal nahas tersebut tenggelam di perairan Selat Bali. Proses evakuasi dan pencarian korban langsung dilakukan oleh tim SAR gabungan.
Polisi Daerah Jawa Timur mengerahkan kapal dan personel dari Direktorat Polairud untuk membantu pencarian di perairan Banyuwangi. Upaya maksimal dilakukan untuk menemukan para korban dan memastikan keselamatan penumpang yang masih hilang.
Korban KMP Tunu Pratama Jaya dan Upaya Penyelamatan
Dari total 65 orang di kapal, sebanyak 33 penumpang berhasil dievakuasi. Sayangnya, empat orang ditemukan meninggal dunia.
RS Jembrana menerima delapan korban, dua di antaranya selamat dan telah dipulangkan setelah perawatan. Enam korban lainnya dinyatakan meninggal dunia dan disemayamkan di kamar jenazah.
Identitas enam korban meninggal dunia telah dirilis pihak berwenang, meliputi tiga laki-laki dan tiga perempuan, salah satunya balita laki-laki berusia 3 tahun. Semua korban berasal dari Banyuwangi.
Daftar nama korban selamat juga telah dipublikasikan, berjumlah 29 orang. Mereka menerima perawatan medis dan dukungan dari pihak terkait.
Seruan Perbaikan Tata Kelola Transportasi Laut
Puan Maharani menekankan pentingnya evaluasi dan perbaikan tata kelola transportasi laut. Kejadian ini menjadi momentum untuk meningkatkan standar keselamatan pelayaran.
Ia meminta seluruh pemangku kepentingan di sektor transportasi untuk bekerja sama memperbaiki sistem yang ada. Prioritas utama adalah keselamatan penumpang dan awak kapal.
Selain itu, Puan juga menyoroti pentingnya mitigasi bencana terkait perubahan cuaca ekstrem. Antisipasi dan langkah pencegahan harus ditingkatkan mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu.
Pemerintah diharapkan mengambil langkah konkret untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Hal ini meliputi peningkatan pengawasan, perawatan kapal, dan pelatihan bagi awak kapal.
Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam transportasi laut. Perbaikan sistem dan peningkatan kewaspadaan dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk melindungi nyawa manusia.
